Korelasi Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dengan Tingkat Kesejahteraan

Judul aslinya adalah “Saya Jadi Tahu Apa Korelasi Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dengan Tingkat Kesejahteraan Suatu Negara dari Nangkring Bersama BKKBN”. Namun, agar judulnya lebih terkesan resmi dan elegan, saya menyingkatnya seperti judul laman ini. Mohon maaf, dan terima kasih.
– Admin

Acara Kompasiana Nangkring Bersama BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) kali ini diadakan di Hotel Santika BSD City Serpong Tangerang Selatan (8/7/2015), dibuka oleh MC cantik dan bersuara empuk yang sudah cukup familiar di kalangan Kompasianer, Mbak Citra. Kemudian dilanjutkan sesi pemaparan materi yang dipandu oleh Moderator, Mbak Wardah Fajri. Sebelum ke inti acara, ia sempat memberikan sedikit intermezzo bahwa semua yang baik berawal dari keluarga. Ia juga menceritakan sekilas tentang kegundahan Kak Seto akan pendidikan di Indonesia dan akhirnya mendorong Kak Seto untuk membuat Home Schooling. Tanpa berpanjang-panjang lagi, akhirnya Mbak Wardah kemudian membacakan profil singkat dari pembicara-pembicara yang berkompeten di bidang keluarga ini.

Pada Nangkring kali ini saya banyak belajar dari ketiga narasumber yang hadir. Pembicara pertama yaitu Ibu Airin Rachmi Diany selaku Walikota Tangerang Selatan sekaligus tuan rumah penyelenggara Harganas (Hari Keluarga Nasional) ke-22. Beliau lahir pada 28 Agustus 1976. Menamatkan masa kuliahnya di Bandung, yaitu S1 Unpar dan S2 Unpad, kemudian memulai karirnya sebagai notaris. Serta aktif membuat kegiatan “Gerakan Ibu Membaca Buat Anak”. Lalu ada pembicara kedua yang tak kalah semangat, sangat gamblang serta lugas dalam menyampaikan materinya, sehingga membuat saya paham apa korelasi dari pengendalian pertumbuhan penduduk dengan kesejahteraan suatu negara. Beliau adalah Deputi Adpin (Advokasi, Penggerakan, dan Informasi) BKKBN Pusat, Bapak Dr. Abidinsyah Siregar yang lahir di Aceh, 25 Mei 1957. Beliau ternyata juga pernah bekerja di Kementerian Kesehatan. Pantas saja ketika sekilas menjelaskan tentang materi yang ada sangkut pautnya dengan kesehatan, terlihat sangat meyakinkan di mata saya (pengalaman itu memang nggak bisa bohong ya..). And last but not least, saya juga banyak belajar tentang dampak masalah kependudukan, langsung dari masternya yang memiliki latar belakang sebagai peneliti. Pria kelahiran Kebumen ini adalah Direktur Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Pusat, Bapak Suyono Hadinoto, MSc. yang ternyata baru berulang tahun 1 Juli yang lalu yang ke-60.

Ketiga narasumber dalam acara Kompasiana nangkring bersama BKKBN [Foto: Dokpri]

Ibu Airin menjelaskan bahwa dengan momentum Harganas yang ke-22 ini bisa dijadikan moment penting dimana kita bisa mengingat dan meninjau ulang kembali makna, peran dan fungsi keluarga (yang kelihatannya agak kabur dewasa ini). Sebagai bagian dari rangkaian Harganas juga akan datang seluruh Bupati dan Gubernur dari kabupaten kota seluruh Indonesia sehingga diharapkan multiplier effect bisa terjadi dalam upaya meningkatkan komitmen Pemerintah dan Pemda tentang pentingnya membangun keluarga Indonesia yang berkualitas, berkarakter, dan sejahtera.

Dari pemaparan Ibu Airin, ternyata rangkaian kegiatan Harganas keren keren banget loh. Acara puncak Harganas ini akan jatuh pada 1 Agustus nanti yang rencananya akan diadakan di Lapangan Sunburst (milik BSD City). Beberapa rangkaian acara Harganas yang sudah dipersiapkan TangSel diantaranya akan ada performance dari Dik Doank, pemberian Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Sejahtera oleh Bapak Presiden Jokowi, pemecahan rekor MURI 22 ribu ikrar remaja untuk penundaan usia perkawinan.

Rangkaian kegiatan acara Harganas ke-22 Tahun 2015 di Tangerang Selatan (Foto: capture file paparan BPMPKB – Walikota  Tangsel)

 

Logo Harganas XXII Tahun 2015 [Foto: http://harganas22banten.com/wp-content/uploads/2015/02/Logo-Hari-Keluarga-XXII-Tahun-2015-gold.jpg]

Tak kalah serunya, pada 30 Juli 2015 akan diadakan Pameran dan Gelar Dagang Produk UPPKS, Pameran Pembangunan, Pameran Batu Mulia Nusantara, Pasar Rakyat, Festival Anggrek dan Pengukuhan Pengurus Anggrek Seluruh Indonesia (pantas saja saya temukan ada gambar bunga anggrek yang tersemat cantik mewarnai logo acara Harganas ke-22 ini, ternyata anggrek ini icon kota TangSel tho…), Hiburan Rakyat, Penyerahan Hadiah untuk Juara-Juara Lomba, Bakti Sosial Pelayanan KB (IUD, Implant, Vasektomi, Pap Smear, Khitanan Massal), Festival Palang Pintu, Festival Kuliner, Penampilan Jazz. Lalu pada 31 Juli ada acara Senam Keluarga Indonesia dan Gerak Jalan 5.000 peserta, Pawai Budaya Nusantara, dan Gala Dinner. Bu Airin juga mengharapkan agar Harganas yang diadakan di TangSel ini bisa sukses dalam penyelenggaraannya, sukses dalam prestasinya, sukses juga dalam pengelolaan keuangan, sukses ketika acara puncak, sukses dalam penyambutan tamu yang baik, dan sukses pula dalam pertanggungjawaban anggaran.

Agenda Kegiatan Harganas Ke-22 Pada 30 Juli 2015 [Foto: Dokpri]

Materi kedua dilanjutkan oleh Bapak Dr. Abidinsyah Siregar yang memulai pemaparannya dari konsep keluarga sebagai suatu unit terkecil dari masyarakat, yang bisa saja terdiri dari suami-istri atau ayah-ibu-anak atau bisa juga ayah-anak saja ataupun ibu-anak saja. Namun, untuk menjadi keluarga berkualitas, haruslah diawali dan dibentuk berdasarkan ikatan yang sah. Sah secara hukum, sah secara adat, dan sah secara agama.

Bapak Dr. Abidinsyah Siregar Sedang Menjelaskan Definisi Keluarga Menurut UU No.52 Tahun 2009 [Foto: Dokpri]

Peran keluarga juga sangat penting bagi anak karena merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembinaan tumbuh kembang anak, menanamkan nilai-nilai moral kepada anak, pembentukan kepribadian anak, juga sebagai tempat belajar bagi anak dalam mengenal dirinya sebagai makhluk sosial. Adapun fungsi keluarga mencakup fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan.

Bapak Dr. Abidinsyah Siregar Sedang Menjelaskan Fungsi Keluarga [Foto: Dokpri]

Pak Abidin juga menjelaskan alasan mengapa orang tua zaman dahulu rata-rata memiliki 10, 9, 8, atau 7 anak dan kemudian hanya jeda 1 generasi hal ini berubah. Kini rata-rata orang tua memiliki 2 orang anak saja. Hal itu dikarenakan dulu di zaman era Presiden Soekarno berkuasa, beliau berkata “untuk menjadi Negara yang besar dan kuat, Indonesia butuh 250 juta penduduk” (padahal saat itu penduduk Indonesia baru sekitar 40 juta orang). Maka saat itu, diberlakukanlah kebijakan yang Pro-Natalis yang mendukung dan mendorong agar setiap keluarga memiliki banyak anak. Namun, jika kita lihat lebih dalam, diantara anak yang dilahirkan itu banyak juga yang meninggal/tidak sempat menginjak usia dewasa serta tidak mendapat akses pendidikan yang cukup.

Setelah era Soekarno berakhir, pemerintahan Indonesia kemudian dipimpin oleh Presiden ke-2  Soeharto. Ia berpikir bagaimana Indonesia bisa sejahtera. Apa yang harus dikerjakan? Karena saat itu urusan Ideologi sudah clear, urusan Republik dan sistem pemerintahan sudah clear di era Soekarno, maka yang dilakukan selanjutnya adalah membangun, agar semua rakyat Indonesia bisa sejahtera. Pak Harto kemudian berkonsultasi dengan Menteri Perencanaan Pembangunan pada saat itu, Bpk. Wijoyo Nitisastro. Pak Wijoyo kemudian memprediksikan bahwa pada tahun 1970, penduduk Indonesia akan mencapai 109 juta, lalu pada tahun 2000 mencapai 285 juta kemudian pada tahun 2010 mencapai 335 juta jiwa. Jelas, terjadi lonjakan pertumbuhan penduduk yang eksponensial.

Hal ini tentu akan berpengaruh kepada daya dukung lingkungan atau carrying capacity, yaitu kemampuan suatu tempat/lingkungan dalam menunjang kehidupan makhluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang panjang. Disini ada 2 komponen penting, yaitu daya tampung, bagaimana suasana keleluasaan di suatu lingkungan/daerah dan daya dukung, apakah semua orang bisa mendapatkan akses air yang cukup, sehingga mereka bisa terhindar dari berbagai penyakit. Apakah semua orang bisa mendapatkan akses listrik cukup, sehingga anak-anak mereka bisa cukup penerangan ketika belajar di malam hari. Apakah akses pasar dekat, sehingga semua orang bisa mudah mendapatkan beras, sayur, dan makanan pokok lainnya dengan harga yang wajar. Jika makanan kebutuhan pokok di-supply dari luar daerah semua, maka yang terjadi adalah harga barang tersebut akan menjadi mahal dan akhirnya, pendapatan masyarakat tidak bisa mengejarnya.

Jadi, jika masyarakat belum bisa mendapatkan akses air yang cukup, listrik yang cukup, makanan yang cukup, maka otomatis masyarakat Indonesia yang sejahtera belum tercapai. Oleh karena itu, pada tahun 1970 dijadikanlah milestone berdirinya BKKBN oleh Pak Harto yang identik dengan pasukan baju biru yang naik sepeda biru dan motor biru (kini ada juga mobil biru) untuk blusukan ke pelosok-pelosok demi memberikan penyuluhan dan mensukseskan program-program yang dicanangkan oleh BKKBN (salah satunya adalah program Lingkaran Biru).

Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)/Penyuluh KB (PKB) Yang Sedang Berpawai [Foto: http://sumut.bkkbn.go.id/AnalyticsReports/Road%20Show%20KKB%20di%20siantar.jpg]

Mobil Tempur ‘Biru’ PLKB BKKBN [Foto: http://images.solopos.com/2011/12/22mobilKB.jpg]

Pak Abidin juga menjelaskan secara gamblang gambaran tentang lonjakan pertumbuhan penduduk dunia. Ketika tahun 1000, jumlah penduduk dunia hanya 250 juta saja, dan hanya butuh 800 tahun untuk kemudian menjadi 1 Milyar (di tahun 1800). Selanjutnya, hanya butuh 130 tahun untuk kemudian menjadi 2 Milyar (di tahun 1930). Lalu, untuk bertambah 1 Milyar berikutnya hanya butuh waktu hampir 30 tahun, sehingga penduduk dunia menjadi 3 Milyar (di tahun 1959). Bahkan selanjutnya, hanya perlu 15 tahun untuk mencapai 4 Milyar di tahun 1974. Ini ibarat seperti teori pertumbuhan bakteri, pertumbuhannya eksponensial. Kini di tahun 2015 diperkirakan penduduk dunia sudah mencapai 7,5 Milyar. Jika pertumbuhan penduduk dunia tidak bisa dikendalikan, pasti Anda bisa membayangkan apa dampaknya terhadap carrying capacity atau daya dukung lingkungan.

Lonjakan Eksponensial Jumlah Pertumbuhan Penduduk Dunia [Foto: Capture Materi Kompasiana 2015-Deputi Adpin]

Idealnya, pertumbuhan penduduk tidak boleh lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi, sehingga ada jeda. Jadi jika digambarkan dengan grafik, seperti inilah gambarannya.

Grafik Ideal Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Pertumbuhan Penduduk [Foto: Dokpri Sketsa Sendiri]

Kita bisa belajar dari negara-negara maju yang rakyatnya makmur dan sejahtera, seperti China, Singapura, Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan Australia, dimana semuanya bisa dijawab dengan pengendalian penduduk. Bahkan di China sempat diberlakukan oleh pemerintahnya setiap keluarga hanya boleh mempunyai anak satu dan kini aturannya sudah diperlonggar, sehingga boleh memiliki anak dua. “Di China ini bisa diterapkan dan diberlakukan serentak karena mereka komunis, lain halnya dengan Indonesia yang menganut asas demokrasi dan Pancasila. Indonesia bisa maju dengan pengendalian penduduk dan dengan menjaga laju pertumbuhan ekonomi tetap di atas laju pertumbuhan penduduk”, ujar Pak Abidin mengakhiri presentasi materinya.

Materi berikutnya yang dipaparkan oleh Bapak Suyono Hadinoto adalah mengenai sharing pengalamannya sebagai peneliti di BKKBN. Pak Suyono dihadirkan sebagai narasumber menggantikan Deputi KPSK BKKBN Dr. Sudibyo Alimoeso, MA yang berhalangan hadir. Ada satu quote bagus yang disampaikan Pak Suyono saat itu, ia mengutip dari kata-kata Albert Einstein, “Janganlah kamu memandang hal yang besar terlampau besar dan janganlah kamu memandang hal-hal kecil terlampau kecil”. Menurut hemat saya, ini ia ungkapkan agar audiens bisa melihat lebih dalam dari hal-hal kecil yang sering kita jumpai selama ini. Fenomena seperti penyebaran penyakit akibat water pollution, seperti halnya yang terjadi di Bandung, water pollution telah mencapai level 4 atau bahaya. Kemudian banyaknya anak-anak jalanan dan menurunnya home security (yang merupakan produk dari perceraian/broken home). Lalu adanya fenomena pelacur yang rela dibayar Rp.5.000-Rp.10.000 untuk melayani pria hidung belang akibat tidak adanya kesempatan bekerja di daerah Sikka NTT.

Beberapa Dampak Masalah Kependudukan [Foto: Capture Materi Kompasiana 2015-Deputi Adpin]

Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa permasalahan kependudukan bukanlah urusan jumlah semata, melainkan juga permasalahan mengenai karakter dan kualitasnya. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan momentum Harganas (Hari Keluarga Nasional) yang ke-22 ini,mari kita bersama-sama tingkatkan kembali makna, peran dan fungsi keluarga (sebagai unit terkecil dari masyarakat) agar lebih berketahanan, berkualitas, berkarakter, dan harmonis.

Source: Saya Jadi Tahu Apa Korelasi Pengendalian Pertumbuhan Penduduk dengan Tingkat Kesejahteraan Suatu Negara dari Nangkring Bersama BKKBN – KOMPASIANA.com

Bonus Demografi Ibarat Pedang Bermata Dua, Bisa Berkah atau Musibah

Oleh: Annisa Nurul Koesmarini (27 Juli 2015)

bonus-demografi-55b52eed6f7e61300c21071d.jpg

Apa itu bonus demografi?

Mungkin beberapa dari Anda ada yang bertanya-tanya, makhluk seperti apakah Bonus Demografi itu? Hehe...Hal ini juga sempat ditanyakan oleh kompasianer kepada BKKBN saat acara Kompasiana Nangkring Bersama BKKBN pada Rabu, 8 Juli 2015 lalu yang bertempat di Hotel Santika Serpong BSD City Tangerang Selatan.

Dijelaskan oleh Bapak Dr. Abidinsyah Siregar Deputi Adpin BKKBN Pusat, bonus demografi adalah suatu kondisi dimana jumlah penduduk usia produktif (15 tahun – 64 tahun) di suatu wilayah atau negara lebih besar dari jumlah penduduk usia tidak produktif (kurang dari 14 tahun dan diatas 65 tahun).

Artinya, proporsi penduduk yang produktif (yang bekerja/angkatan kerja) lebih besar dari yang tidak produktif (tidak bekerja), sehingga tingkat kebergantungan penduduk tidak produktif (anak-anak dan lansia) kepada penduduk yang produktif menjadi sangat rendah, karena minimal setiap keluarga bisa mengayomi/membantu keluarganya sendiri dan pada ujungnya negara bisa saving devisa banyak jika kondisi ini berlanjut.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa bonus demografi adalah ledakan penduduk usia kerja dalam struktur umur masyarakat di suatu wilayah atau negara. Saat ini Indonesia mengalami bonus demografi, hal ini dikarenakan proses transisi demografi yang berkembang sejak beberapa tahun lalu yang dipercepat dengan keberhasilan program KB menurunkan tingkat fertilitas dan meningkatnya kualitas kesehatan serta suksesnya program-program pembangunan lainnya.

Nah, apa implikasinya jika terjadi ledakan penduduk usia kerja/usia produktif ini di masyarakat? Tentu saja ini merupakan suatu berkah sebab dengan melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Bonus demografi menjadi anugerah jika usia produktif ini berkualitas dan terserap lapangan kerja sehingga punya tabungan yang dapat digunakan untuk investasi pembangunan ekonomi jangka panjang. Namun, berkah ini bisa berbalik menjadi musibah, jika usia produktif ini tidak berkualitas dan tidak berproduktivitas.

Bonus demografi ini bisa menjadi bencana dan berakibat fatal jika tidak dipersiapkan dengan baik kedatangannya sehingga dapat menjadi beban negara. Ingat, if you fail to plan, that same with you plan to fail (jika kamu gagal dalam merencanakan sama saja berarti kamu merencanakan untuk gagal).

tantangan-55b52f60ce92738b048b4567.jpg

Tantangan pembangunan keluarda di masa kini dan yang akan datang [Foto: capture materi DEPUTI KSPK – PEMBANGUNAN KELUARGA]

Salah satu masalah yang terpampang nyata adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Apakah negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk mencapai penduduk usia kerja yang diperkirakan jumlahnya mencapai 70 % dari total penduduk Indonesia di tahun 2020-2030.

Kalau pun lapangan kerjanya ada, pertanyaan berikutnya yang muncul mampukah penduduk usia produktif yang melimpah itu bersaing di dunia kerja dan pasar internasional? Jawaban pertanyaan ini tentunya sangat terkait dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia saat ini. Kualitas SDM erat kaitannya dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).

Jika kita melihat fakta yang ada, IPM Indonesia terbilang masih rendah. Dari 187 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 108. Sedangkan di wilayah ASEAN, Indonesia berada di peringkat 5, di bawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand (data bisa dilihat disini). Hal ini menunjukkan masik banyak pekerjaan rumah yang harus kita bereskan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Apa itu Indeks Pembangunan Manusia (biasa disingkat IPM)?

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar sebagai ukuran kualitas hidup. Ketiga dimensi tersebut diantaranya adalah ‘umur panjang yang sehat’, ‘akses terhadap ilmu pengetahuan’,dan‘standar kehidupan yang layak’.

Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi umur panjang dan sehat, digunakan angka harapan hidup saat lahir. Lalu untuk mengukur dimensi akses terhadap ilmu pengetahuan digunakan gabungan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah.

Adapun untuk mengukur dimensi standar kehidupan yang layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.

gambar-ipm-atau-hdi-55b533c3ce92730f048b456c

Yang Perlu Dilakukan Untuk Memanfaatkan Bonus Demografi

Untuk memanfaatkan bonus demografi dengan baik, saya kira dibutuhkan kepemimpinan yang mumpuni disertai terobosan visioner yang perlu dilakukan oleh pemerintah guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan begitu, Indonesia akan bisa bersaing secara sehat dengan negara lain.

Salah satu yang mesti diperhatikan adalah menerapkan sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman (knowledgedanskill) sekaligus memperkuat karakter bangsa (attitude), galakkan wajib belajar minimal 12 tahun yang disertai dengan pemberian keterampilan sehingga nantinya mereka tidak hanya bergantung kepada ketersediaan lapangan pekerjaan tapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan itu sendiri, penuhi ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas dan fasilitas pendidikan yang merata diseluruh pelosok daerah. Sebab pendidikan, penguasaan IPTEK, dan pengembangan sumber daya manusia yang berkarakter merupakan investasi jangka panjang yang menjadi kunci utama kemajuan suatu bangsa.

Dalam hal ekonomi, pemerintah juga harus mampu menjaga aset-aset negara sehingga tidak banyak yang dikuasai asing sehingga pada ujungnya bisa memberikan lapangan kerja dan akses ekonomi yang luas kepada rakyat yang dipimpinnya.

Kemudian dari segi kesehatan, pemerintah harus berkomitmen untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan sehingga mampu mencapai goal MDGs (Milennium Development Goals) yang berakhir pada akhir 2015 ini (terutama yang berkaitan dengan kesehatan yaitu menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, serta memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya) kemudian selanjutnya disambung lagi dengan goal SDGs (Sustainable Development Goals).

Dengan masyarakat yang sehat, maka mereka bisa belajar dengan lebih baik dan bekerja dengan lebih baik, sehingga kesejahteraan masyarakat yang merupakan muara dari keseluruhan cita menjadi sebuah keniscayaan. Tentu kita sebagai masyarakat juga harus menjadi pendukung utama program-program pemerintah yang berfokus pada pembangunan kualitas manusia.

Kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia harus sadar benar pentingnya arti pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek yang dapat mengembangkan kualitas manusia itu sendiri serta mempraktekkannya, minimal bagi diri sendiri dan dalam lingkup keluarga inti kita.

Untuk point kesehatan, yang paling mudah kita bisa melihatnya dari angka harapan hidup. “Di Indonesia rata-rata angka harapan hidupnya adalah di usia 72, bandingkan dengan negara lain seperti Malaysia yang rata-rata angka harapan hidupnya di usia 81, Singapura di usia 83, USA di usia 85, dan Jerman di usia 90.

Namun kini, biasanya di usia 55-65 tahun, banyak juga beberapa orang yang sudah wafat karena penyakit degeneratif. Padahal penelitian dari dunia kedokteran mengungkapkan bahwa usia manusia bisa sampai 100-120 tahun, jika dipersiapkan secara baik, salah satunya adalah dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang alami”, ujar Bapak Dr. Abidinsyah Siregar Deputi Adpin BKKBN Pusat di tengah acara Kompasiana Nangkring bersama BKKBN pada 8 Juli 2015 lalu.

Beliau menambahkan bahwa di Indonesia, mayoritas penduduknya (sekitar 95 %) jarang mengkonsumsi buah dan sayur, akibatnya meledaklah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lainnya. Kemudian, yang melakukan aktivitas fisik (seperti olahraga, membersihkan rumah, menyikat kamar mandi, mencuci mobil/motor,dll) hanya sekitar 20% saja, sisanya 80% cenderung malas bergerak, hanya banyak duduk dan tidur saja.

WHO telah merilis nomor 4 pembunuh terbesar manusia abad ini adalah kebiasaan malas bergerak, tidak melakukan aktivitas fisik yang berarti dan waktu yang dihabiskan sehari-hari relatif hanya duduk saja (baik di kantor ataupun di rumah). Tak heran, ada ungkapan ‘sitting is killing’ (yang kalau diartikan adalah terlalu banyak duduk bisa membunuhmu).

Peran BKKBN Dalam Memberikan Solusi Menghadapi Bonus Demografi

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa BKKBN memiliki visi yaitu menjadi lembaga yang handal dan dipercaya dalam mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas. Untuk mencapai visinya tersebut, BKKBN memiliki tiga pilar utama yang menjadi ruh dari setiap program yang dilaksanakan, yaitu pertama kependudukan, kedua KB dan kesehatan reproduksi, serta ketiga pembangunan keluarga.

1] Kependudukan

Dalam Harian Republika Edisi 6 Juni 2015, Kepala BKKBN Bapak Surya Candra Surapaty, mengungkapkan bahwa kemerosotan kualitas generasi penerus bangsa berhubungan dengan krisis dalam institusi keluarga. Beliau menambahkan bahwa maraknya korupsi, narkoba, prostitusi, dan kasus-kasus lain di Indonesia ada hubungannya dengan krisis yang terjadi dalam keluarga. Oleh karena itu, beliau menyambut baik keberadaan Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (Fapsedu) di tengah-tengah masyarakat. Sehingga diharapkan forum lintas agama ini bisa memberi kontribusi yang positif terhadap perbaikan keluarga Indonesia, khususnya yang melalui jalur pemuka agama.

2] KB dan Kesehatan Reproduksi

KB merupakan bagian dari hak dasar individu dan keluarga. Melalui pelayanan KB maka keluarga memiliki kesempatan untuk merencanakan jumlah dan jarak kelahiran anak.

Perencanaan jumlah penduduk yang baik melalui KB juga memberikan peluang yang lebih besar pada negara untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dengan jumlah penduduk terencana maka negara lebih mudah melakukan investasi di bidang kualitas penduduk dan pembangunan ekonomi secara lebih berkelanjutan.

bkkbn2-55b53458ce927348048b456c.jpg

3] Pembangunan Keluarga

pembangunan-keluarga-55b53510f17a613a0dc31b04.jpg

Kerangka konsep pembangunan keluarga

Konsep pembangunan keluarga yang digagas oleh BKKBN saya kira sudah cukup baik dan mencakup keseluruhan dari balita dan anak (ada program BKB/Bina Keluarga Balita), remaja (ada program BKR/Bina Keluarga Remaja dan GenRe/Generasi Berencana), lansia (ada program BKL/Bina Keluarga Lansia), hingga pemberdayaan ekonomi keluarga (ada program UPPKS/ Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).

Untuk itu perlu sosialisasi yang baik agar masyarakat lebih paham dan mendukung lebih maksimal dengan menjadi mitra aktif dalam setiap program yang digulirkan oleh BKKBN sehingga diharapkan implementasi program yang sudah bagus ini bisa dilaksanakan secara terarah, simultan dan berkesinambungan.

Kesimpulan

Bangsa yang besar dan kuat tentu harus memiliki perencanaan yang matang, terutama dalam membangun sumber daya manusia berkualitas yang tentunya akan menjadi keuntungan daya saing sebuah bangsa. Bonus demografi yang kini tengah kita alami dan dapat terus kita nikmati hingga 2035 ini bisa diibaratkan pedang bermata dua, bisa menjadi berkah tak terkira (yang biasanya hanya mampir sekali kesempatannya) jika kita mempersiapkannya dengan sebaik mungkin sehingga SDM usia produktif ini berkualitas dan terserap lapangan kerja hingga akhirnya punya tabungan, investasi, dan menambah devisa negara, dan dapat pula menjadi bencana seandainya kualitas SDM tidak dipersiapkan dari sekarang.

Untuk memanfaatkan bonus demografi dengan baik, maka diperlukan kebijakan dan strategi visioner yang bisa diimplementasikan dengan baik. Jika momentum bonus demografi ini dapat kita raih dan manfaatkan dengan baik, bukan mustahil Indonesia bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia dengan masyarakat yang adil dan makmur. Semoga…

Referensi:

Source: Bonus Demografi Ibarat Pedang Bermata Dua, Bisa Berkah atau Musibah – KOMPASIANA.com