Kesenjangan Bermuka Dua

Datang ke Indonesia untuk memberikan pencerahan tentang ”Mengapa Pasar Global Gagal untuk Mengikis Kesenjangan”, ekonom Amerika Serikat, Eric Stark Maskin, ternyata bisa menjabarkan hal yang sulit itu menjadi mudah di mata awam. Peraih Nobel Ekonomi 2007 itu seakan tak kenal lelah melayani berbagai sesi wawancara dan paparan.

Aula Universitas Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, tidak menyisakan satu pun tempat duduk kosong ketika acara diskusi dengan Eric Stark Maskin digelar, Minggu (15/1). Diskusi berlangsung seru, sampai-sampai sesi tanya-jawab harus dipotong karena penanya terus bermunculan.

”Kesenjangan, baik sosial maupun ekonomi yang selalu saling berhubungan, hanya bisa mengandalkan peran pemerintah setempat untuk bisa menguranginya. Ingat. Menguranginya. Kesenjangan tak pernah bisa dihilangkan sama sekali,” kata Maskin, yang meraih Nobel lewat peletakan dasar teori ekonomi tentang Teori Desain Mekanisme (Mechanism Design Theory).

Teori yang juga dipakai Maskin untuk membahas topiknya di Indonesia itu secara umum adalah bagian dari teori ekonomi mikro dan Teori Permainan (Game Theory). Desain mekanisme memikirkan bagaimana cara mengimplementasikan sebuah sistem yang paling baik untuk mengatasi masalah yang melibatkan banyak pihak, di mana tiap pihak memiliki kepentingan masing-masing. Teori ini sarat dengan unsur matematika yang tentu rumit di mata awam.

Siang itu, dengan gamblang Maskin menjabarkan teorinya hanya dalam waktu sekitar satu jam dalam sebuah diagram sederhana.

Menurut Maskin, kesenjangan terjadi terutama karena adanya berbagai tingkat kemampuan manusia di mana pun. Kemampuan manusia (skill) akan berhubungan dengan bagaimana seorang manusia hidup, berinteraksi dengan sesama dan mencari nafkah. Kesenjangan dalam jangka panjang menimbulkan berbagai masalah lain dalam kerangka sosial ekonomi.

”Bagaimanapun, cara mengatasi kesenjangan terutama adalah dengan pendidikan dan pelatihan,” papar Maskin yang datang ke Indonesia dalam program Bridges, yaitu program yang berusaha menciptakan kedamaian dan keharmonisan lewat dialog ilmu dan budaya di sejumlah negara.

Program Bridges yang diusung oleh International Peace Foundation, lembaga nirlaba yang berpusat di Vienna, Austria, berlangsung juga di beberapa negara ASEAN, yaitu Filipina, Malaysia, Kamboja,dan Vietnam. Peraih Nobel lain yang akan datang ke Indonesia dalam program Bridges pada Januari ini adalah Jose Manuel Barroso yang pada tahun 2012 meraih Hadiah Nobel untuk perdamaian dan demokrasi.

Pertumbuhan ekonomi

Menurut Maskin, ekonomi yang terus tumbuh juga makin menumbuhkan kesenjangan. Itu, lanjutnya, pernah dijabarkan oleh David Ricardo, ahli ekonomi politik, sejak 200 tahun lalu.

Pelatihan, ujar Maskin, selalu membutuhkan peran serta industri yang sudah berjalan karena pelatihan menyangkut cara melakukan sesuatu atau cara menggunakan sebuah alat. Pelatihan sifatnya spesifik dan kadang tidak bisa dibuat umum untuk sebuah tempat.

”Masalahnya, sebuah pabrik tidak selalu mau memberikan pelatihan dalam skala luas karena mereka berpikir bahwa makin terlatih seorang pekerja, peluang dia untuk lari ke perusahaan pesaing makin besar,” kata Maskin yang kemudian membuat hening ruangan.

Soal pendidikan, Maskin menegaskan bahwa itu menyangkut sistem total yang secara internasional berhubungan karena menyangkut ilmu-ilmu umum.

”Di sinilah memang hanya negara yang bisa berperan. Tentang pendidikan, regulasi dan sistem yang baik membuatnya jadi baik. Untuk pelatihan, sebuah negara bisa memacu sebuah pabrik untuk memberikan pelatihan dengan imbalan pengurangan pajak misalnya,” papar Maskin.

Pendidikan dan pelatihan, menurut Maskin, memang hal utama untuk mengurangi kesenjangan karena kesenjangan tidak akan mungkin dihilangkan sama sekali.

Terkait kesenjangan, Maskin menjabarkan dengan membagi kemampuan manusia dalam empat kelompok. Manusia dengan kemampuan tertinggi dinilai dengan angka 4. Selanjutnya dengan skala menurun, kemampuan manusia dinilai dengan angka 3 dan 2. Menurut Maskin, dalam penelitiannya, produktivitas mempunyai rumus O (output, keluaran) = M2 x S (M kuadrat kali S). M adalah kemampuan manajer, sedangkan S adalah kemampuan karyawannya.

Maskin menunjukkan, kalau kemampuan manajer dan karyawannya beda tipis, misalnya manajer 4 dan karyawan 3, akan didapat produktivitas lebih baik jika 4 bekerja dengan 3 dibandingan 4 dengan 4 dan 3 dengan 3.

Sebagai contoh, sebuah sistem terdiri dari 4, 4, 3, dan 3.

(42 x 3) + (42 x 3) = 96

sedangkan

(42 x 4) + (32 x 3) = 91.

Terlihat bahwa menggabungkan 4 dan 3 menghasilkan keluaran lebih baik daripada 4 dengan 4 atau 3 dengan 3.

Akan halnya di area di mana ada pekerja dengan level 2, misalnya ada 4, 4, 2, dan 2, maka:

(42 x 4) + (22 x 2) = 72

sedangkan

(42 x 2) + (42 x 2) = 64.

Menurut Maskin, saat ini masih sangat banyak tingkat kemampuan 2 di berbagai penjuru dunia. Sementara itu, banyak negara dengan kemampuan 4. Maka, yang terjadi adalah banyak negara maju membiarkan 2 tetap 2.

Kesenjangan kadang dibiarkan tetap kesenjangan bagi kelompok tertentu karena menguntungkan bagi mereka. Maka, bisa dikatakan bahwa kesenjangan bisa bermuka dua.

”Pendidikan yang baik akan membawa pekerja dengan level 2 menjadi 3. Selain akan mengurangi kesenjangan, hal itu akan menciptakan dunia yang lebih baik,” ujar Maskin.

Source: Kesenjangan Bermuka Dua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s