Pendidikan, Pemuda dan Bonus Demografi

Saya ingin memulai tulisan pendek ini dengan sedikit refleksi: republik Indonesia sudah merdeka lebih dari 69 tahun. Kita telah bersama menikmati hasil kemerdekaan berikut dengan perjuangan panjang para pendiri bangsa. Dibalik hasil kemerdekaan yang telah kita nikmati itu, ada satu hal yang tak boleh kita lupa: republik ini didirikan oleh kaum terdidik. Kaum tercerahkan.

Meminjam istilah Menteri Pendidikan Dasar Menengah Republik Indonesia Anies Rasyid Baswedan; Soekarno, Hatta dan Sjahrir sebagai misal adalah kaum terdidik. Mereka datang dengan lebel “orang terpelajar dan guru”, bersama-sama turun tangan berjuang merancang mendirikan republik.

Tak hanya terdidik, secara biologis para pendiri bangsa juga berusia muda. Ambil contoh Soekarno, ketika Indonesia merdeka tahun 1945 usianya 44 tahun.

Muhammad Hatta berusia 43 tahun. Dan Sutan Sjahrir berusia 36 tahun. Itu artinya, ada satu fakta menarik: berdirinya republik Indonesia ini digerakkan dan diperjuangkan oleh kaum muda terdidik. Indonesianis terkemuka Benedict Anderson bahkan menkonfirmasi ini lewat karya monumentalnya, Revolusi Pemuda: sejarah Indonesia adalah milik kaum muda.

Baru saja seluruh bangsa Indonesia merayakan hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Ada rasa bangga ketika kita peringati momentum ini. Kebanggaan kita bahwa bangsa ini dapat berdiri kokoh tak hanya diongkosi dengan pergolakan fisik, juga dengan pendidikan. Sendainya pada masa pra kemerdekaan para pejuang kita hanya mengandalkan kekuatan fisik, yang dari matematika perang, jumlah tentara dan armada kita pada masa itu sangat tak sepadan dibandingkan kekuatan musuh yang jauh lebih kuat. Jika itu saja yang diandalkan, saya kira Indonesia hari ini masih terjajah.

Pendidikan merupakan sumber kekuatan suatu bangsa. Agak keliru jika anggapan kita selama ini masih berkutat seputar kekuatan suatu bangsa terletak pada sumber daya alamnya. Kita sudah saksikan bagaimana Jepang setelah hancur berantakan dari pasukan Amerika Serikat, namun bisa menemukan titik balik sebagai negara maju berkat sentuhan pendidikan.

Begitupun India yang saat ini disegani sebagai negara pabrik industri teknologi juga berkat pendidikan. Pendek kata, pendidikan bagi suatu bangsa merupakan kekayaan tak ternilai harganya. Bangsa yang ingin maju dan besar syarat utamanya ialah memuliakan pendidikan.

Indonesia sendiri saat ini perlahan membenahi sektor pendidikannya. Laporan Pembangunan Manusia 2013 yang dikeluarkan badan PBB untuk program pembangunan UNDP, tahun 2013 memperlihatkan bahwa Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang kuat dalam setiap indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam 40 tahun terakhir.

Nilai IPM Indonesia pada 2012 meningkat menjadi 0,629, menjadikannya naik tiga posisi ke peringkat 121 dari peringkat 124 pada 2011 (0,624), dari 187 negara. Menduduki peringkat yang sama dengan Indonesia adalah Afrika Selatan dan Kiribati.
Penguatan Indeks Pembangunan Manusia itu dirasa begitu penting. Sebab, Indonesia tahun 2025 akan diuntungkan dengan sokongan bonus demografi ditandai peningkatan jumlah angkatan kerja muda produktif. Data statistik menunjukkan bahwa sekarang 100 orang penduduk usia produktif menanggung 51 penduduk tidak produktif.

Pertanyaannya sekarang, apakah ada hubungan antara pendidikan, pemuda dan bonus demografi? Tentu saja ada. Bonus demografi sebagian besar diisi oleh mereka yang dalam rentang usia produktif 15-64 tahun. Besarnya jumlah angka penduduk produktif secara kuantitatif dapat dikelola dengan baik bila didukung dengan angka penduduk secara kualitatif (sumber daya manusia) pula. Karena angka penduduk produktif memiliki potensi menggerakkan perekonomian nasional yang kuat jika penduduk tersebut berkualitas.

Bagaimana Dengan Kabupaten Buru?
Beberapa daerah di Indonesia sudah lakukan sejumlah kebijakan untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bonus demografi. Salah satunya di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Saat ini wajah pendidikan di Kabupaten Buru terus menunjukkan kondisi yang baik.

Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, pendidikan di Kabupaten Buru menjadi salah satu program unggulan selain kesehatan dan ekonomi dimana pertanian sebagai penggerak utamanya. Konsep dasarnya adalah bahwa pertama, pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemerintah, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pada tujuan negara yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Kedua, pendidikan adalah merupakan komponen dasar dalam pembangunan kualitas hidup manusia yang disebut juga HDI (Human Depelopment Indeks). Ketiga, pembangunan pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan sosial antaranya  dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Meski harus diakui, untuk memperbaiki wajah pendidikan di Kabupaten Buru seperti pengentasan angka buta huruf dan pemerataan fasilitas pendidikan yang memadai, bukanlah pekerjaan mudah. Selain membutuhkan biaya yang tak sedikit pun kesadaran dari semua pihak untuk bersama-sama turun tangan. Namun, dengan melihat trend pendidikan Kabupaten Buru hari demi hari terus menunjukkan progress yang positif, kita perlu apresiasi.

Setidaknya ada komitmen dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia sebagai asset daerah.

Saya kira ini adalah hal baik yang harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Tantangan paling nyata akan dihadapi sebelum bonus demografi tahun 2025 ialah akhir tahun 2015 Indonesia akan masuk koridor pasar bebas bersama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tentu saja, menghadapi MEA harus didukung dengan kualitas sumber daya manusia  pemuda kita. Kualitas yang tidak hanya dari aspek kognitif saja. Pun ketrampilan, kreatifitas dan inovasi.

Karenanya, peringatan 2 Mei 2015 harus dimaknai sebagai momentum untuk semua pihak kembali menganggap pendidikan adalah investasi yang bernilai jangka panjang bagi negeri ini.

Syarat utama agar tantangan bonus demografi 2015 bisa kita lewati dengan sukses, jika pemuda kita memiliki pendidikan yang berkualitas. Sebaliknya, jika pemuda kita tidak punya modal pendidikan yang berkualitas, maka bonus demografi itu akan jadi bencana yang mengancam eksistensi pemuda dan beban besar dalam pembangunan Indonesia di masa depan. (*)

Source: Pendidikan, Pemuda dan Bonus Demografi – Ambon Ekspres

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s