Bonus demografi, musibah atau anugerah?

JAKARTA, INDONESIA — Dalam beberapa tahun terakhir, “bonus demografi” menjadi jargon yang semakin sering kita dengar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bonus demografi ini?

Di sela-sela penyelenggaraan World Economic Forum on East Asia beberapa waktu lalu, Rappler mewawancarai Direktur Eksekutif United Nation Population Fund (UNFPA) Babatunde Osotimehin untuk mendalami persoalan ini.

UNFPA sendiri merupakan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang fokus pada persoalan populasi dan berbagai turunannya.

 

Yang muda yang berkarya

Menurut Osotimehin, pada intinya bonus demografi adalah saat dalam sebuah populasi, selama rentang waktu tertentu, angka kelahiran meningkat sedangkan secara pararel angka kematian berkurang.

Sebagai hasilnya, sebuah populasi akan menjadi lebih “muda”.

Dalam konteks sebuah negara, populasi yang muda akan memperbesar jumlah penduduk berusia produktif dalam struktur piramida penduduk negara tersebut (penduduk berusia 15-64 tahun berdasarkan standar Bank Dunia).

Osotimehin menjelaskan, hal ini merepresentasikan potensi untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi bagi negara bersangkutan.

Untuk mengkonversi potensi tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi yang rill, para penduduk berusia produktif tersebut harus benar-benar produktif dalam menghasilkan nilai tambah (value added) bagi perekonomian.

Mari kita gunakan analogi dua buah desa: Desa A dan B

Desa A memiliki 5 penduduk berusia di antara 15-64 tahun dan 2 orang penduduk berusia di luar rentang tersebut. Sedangkan desa B, persis kebalikannya.

Dengan mengasumsikan kedua desa memiliki luas lahan pertanian, tingkat kesuburan lahan, iklim, jumlah, dan jenis bibit serta teknologi pertanian yang identik, seharusnya hasil pertanian Desa A akan lebih banyak dari desa B.

Namun bagaimana jika 4 dari 5 penduduk Desa A ternyata tidak ikut bertani karena berbagai alasan mulai dari sakit-sakitan hingga sama sekali tidak tahu cara bertani karena tidak pernah memperoleh pendidikan keterampilan bertani?

Di lain pihak, dua orang berusia produktif dari Desa B ternyata seorang sarjana teknik pertanian universitas terkemuka dan fisiknya sangat kuat untuk bertani karena sejak kecil telah memperoleh perawatan kesehatan berkualitas tinggi.

Jelas, hasil pertanian desa B yang akan lebih unggul.

Bonus demografi pada akhirnya adalah pedang bermata dua. Kita harus mengelolanya dengan baik untuk mengambil nilai manfaat yang optimal alih-alih tertusuk sendiri.

Desa yang manakah kita?

Indonesia saat ini sedang menikmati periode bonus demografi. Data the World Fact Book 2014 menunjukkan bahwa median rata-rata usia penduduk kita adalah 29,2 tahun. Bandingkan misalnya dengan Amerika Serikat dan Jerman, masing-masing adalah 37,6 dan 46,1 tahun.

Data UNFPA mengungkapkan bahwa kita masih akan menikmatinya hingga kurang lebih 15 tahun yang akan datang.

Kabar buruknya, keadaan Indonesia ternyata lebih mirip dengan Desa A.

Data Global Competitiveness Report 2014-2015 terbitan World Economic Forum menunjukkan bahwa tingkat daya saing Indonesia masih relatif memprihatinkan. Bahkan di tingkat Asia Tenggara, kita masih tertinggal dari Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Daya saing yang rendah salah satunya merepresentasikan produktifitas yang masih rendah.

Bisa semakin buruk

Praktisi pengembangan sumber daya manusia Rene Suhardono memprediksi bahwa jika tidak dilakukan perubahan, situasinya akan semakin buruk di masa depan.

“Kalau terus berada di jalurnya saat ini, Indonesia akan melihat gap sebesar 56% antara permintaan dan suplai sumber daya manusia di level manajerial menengah pada tahun 2020. Padahal ada bonus demografi. Sumber daya manusia kita banyak tapi tidak bisa mancapai ke sana (posisi manajerial menengah),” jelas Rene.

“Negara harus mengambil peran untuk menciptakan terobosan dan solusi” pungkasnya.

Menteri Hanif: penguatan kompetensi adalah kunci

Berbicara tentang peran negara, kami membawa berbagai data dan fakta di atas ke Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Kamis, 30 April.

Menteri Hanif memaparkan apa yang akan dilakukan oleh kementeriannya dalam membangun kesiapan tenaga kerja Indonesia, menyongsong periode bonus demografi.

“Kuncinya adalah penguatan kompetensi dan daya saing,” kata Hanif tentang bagaimana Kemenaker akan mengantisipasi datangnya bonus demografi.

Konkretnya, menurut kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, kementeriannya akan mengoptimalkan Balai Latihan Kerja (BLK) baik di tingkat pusat maupun daerah sebagai instrumen untuk menguatkan kompetensi dan daya saing angkatan kerja di tanah air.

Dalam implementasinya, solusi ini juga tidak lepas dari kendala. Paling tidak terdapat dua yang utama yaitu keterbatasan kapasitas keluaran dan struktur pengangguran Indonesia yang “unik”. Kendati demikian, Hanif optimis bahwa kendala-kendala tersebut dapat diatasi.

“Kita bisa tingkatkan mencapai hingga satu juta orang,” ujarnya terkait jumlah keluaran tahunan BLK di Indonesia. Saat ini jumlahnya adalah 120.000 per tahun.

Kamu sendiri, tenaga kerja Indonesia di manapun kamu berada, sudah siapkah menyambut bonus demografi? Di Hari Buruh ini, mari kita renungkan. —Rappler.com

Source: Bonus demografi, musibah atau anugerah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s