Bonus Demografi Menjadi Bencana Nasional

Pertumbuhan penduduk usia produktif yang mencapai puncaknya pada 2035 nanti merupakan tantangan berat bagi Indonesia.

indopos.co.id – Pertumbuhan penduduk usia produktif yang mencapai puncaknya pada 2035 nanti merupakan tantangan berat bagi Indonesia. Dilihat dari aspek kesehatan, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono mengatakan perlu adanya kontrol sejak dari sekarang terhadap masyarakat usia muda. Jika tidak, bisa dipastikan bonus demografi menjadi bencana nasional.

Untuk itu, Anung melihat pentingnya peran Usaha Kesehatan Sekolah sebagai lembaga yang mampu melakukan pengontrolan ini. Mengingat unit tersebut ada di tiap sekolah dan terintegrasi dengan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. Sehingga dianggap bisa melakukan pemeliharaan terhadap generasi harapan Indonesia.

”Bonus demografi tersebut di satu sisi bisa menjadi pendongkrak tingkat kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan Indonesia. Namun di sisi lain dapat menjadi pemicu masalah bila tak diintervensi dengan baik sejak mereka masih menjadi anak usia sekolah dan remaja,” tutur Anung di acara Evaluasi Akselerasi UKS 2016 di Jakarta, Selasa (7/6).

Langkah ini didukung data Angka Partisipasi Murni (APM) yang menunjukkaan bahwa sebagian besar anak usia sekolah dan remaja berada di sekolah. Rinciannya yakni SD atau Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 92 persen, Sekolah Menengah Pertama atau Madrasah Tsanawiyah dengan presentase 70 persen dan SMA, SMK dan Madrasah Alawiyah 50 persen. Sehingga intervensi dari segi kesehatan dinilai efektif dilakukan melalui UKS.

Dijelaskan Anung, program yang telah terealisasi di bidang pendidikan kesehatan mayoritas melalui ekstrakulikuler. Selain itu ada pula bimbingan Perilaku Hidup Bersih (PHBS) dan pencegahan penyalahgunaan narkoba. ”Saya harapkan dari pertemuan ini akan menghasilkan kesepakatan aksi yang konkrit, terukur sehingga mudah dievaluasi,” kata Anung.

Secara tak kasat mata, banyak masalah kesehatan menyerang generasi muda Indonesia. Kategori masalah utamanya seputar kesehatan mental mereka. Lingkungan keluara dan pergaulan yang tidak kondusif mampu membuat anak-anak terserang penyakit mental.

Bahkan, dikatakan Anung, tak sedikit memiliki keinginan bunuh diri. Masalah keluarga dan tekanan lingkungan menjadi penyebab utama niat buruk itu. Nah, revitalisasi UKS bisa menjadi perisai utama mencegah masalah tersebut.

Ada kaitan dengan pengembangan UKS dengan pembinaan mental siswa di sekolah. Sekolah-sekolah di Jawa bahkan sudah memulai melakukan pengukuran terhadap mental siswanya. ”Ini (pengukuran ketahanan mental) sangat penting di sekolah-sekolah, sehingga guru bisa mengenali sejak dini potensi anak didiknya mengalami stres,” tutur Anung.

Terpisah, Direktur Kesehatan Keluarga Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Eni Gustina membeberkan data tentang keinginan bunuh diri siswa. Dari 10.000 lebih sample,  ada 650 siswa SMP dan SMA yang ingin mengakhiri hidupnya. Adapun survey dijelaskan Eni tak menggambarkan secara jelas latar belakang keinginan itu.

Namun garis besar penyebab niat bunuh diri adalah kurangnya komunikasi anak dengan lingkungan keluarga. ”Kemungkinan besar anak-anak ini kurang kasih sayang atau perhatian orang tua. Ada yang mengaku punya tekanan mental, bahkan ingin bunuh diri,” pungkasnya. (adn)

Source: Bonus Demografi menjadi bencana nasional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s