Belajar Teori Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM adalah indikator penting untuk mengukur keberhasilan membangun kualitas hidup manusia, dalam hal ini masyarakat atau penduduk suatu wilayah. Di tingkat pusat maupun daerah, angka IPM menunjukkan ukuran kinerja yang dipakai untuk mengevaluasi proses pembangunan sumber daya manusia. Wajar jika angka ini dapat dijadikan ukuran, karena dimensi penyusunnya adalah kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang layak.

Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. Demikian menurut UNDP, badan PBB yang menangani urusan pembangunan. Dengan kata lain, tujuan tersebut dapat dicapai dengan memperbanya pilihan-pilihan yang dapat dimiliki manusia.

Masih menurut UNDP, IPM didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging the choices of people). Indikator ini diperkenalkan oleh UNDP pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). UNDP memilih tiga aspek pembangunan manusia yang paling mendasar untuk mendapatkan angka tersebut, yakni umur panjang dan sehat (longevity), pengetahuan (knowledge), serta standar hidup layak (decent living standard).

Penggunaan Metode Baru

UNDP sudah mengubah metodologi sejak tahun 2010 dan merevisinya satu tahun kemudian. Beberapa negara, di antaranya Filipina dan India juga mulai mengikuti mengaplikasikannya. Bahkan, untuk India sudah melakukannya pada tahun 2011.

Di Indonesia, apa perbedaannya antara metode baru dan lama?

  • Dimensi kesehatan: tetap menggunakan angka harapan hidup (e0)
  • Dimensi pengetahuan: angka melek huruf diganti dengan harapan lama sekolah, sedangkan rata-rata lama sekolah tetap dipertahankan
  • Dimensi standar hidup layak: tetap menggunakan pengeluaran per kapita yang disesuaikan, tetapi dengan perubahan pendekatan. Metode lama memanfaatkan angka Produk Domestik Bruto (PDB) sedangkan metode baru angka Produk Nasional Bruto (PNB).
  • Penghitungan agregat nilai IPM: metode lama menggunakan rata-rata hitung sedangkan metode baru rata-rata ukur.

Di Indonesia, beberapa hal yang menjadi pendorong penerapan metode baru adalah:

  • Tersedianya data angka harapan hidup saat lahir (e0) hasil proyeksi Sensus Penduduk 2010 (SP2010).
  • Adaya perubahan penimbang (weight) dalam Susenas, yakni MYS dan EYS.
  • Perubahan proksi indikator daya beli

Selain itu, ada beberapa hal yang membuat metode baru ini unggul dibanding metode sebelumnya. Pertama, metode baru ini menggunakan indikator yang lebih tepat, seperti PNB yang menggantikan PDB di mana PNB lebih menggambarkan pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. Demikian pula untuk indikator angka melek huruf yang diganti karena sudah tidak dapat membedakan tingkat pendidikan antar daerah dengan baik.

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s