Pendatang dan Pembangunan Jakarta

Oleh Razali Ritonga Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS RI

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, banyak pihak memperkirakan bahwa penduduk Jakarta pasca-Lebaran akan bertambah dengan hadirnya warga baru dari luar Ibu Kota.

Apalagi pada Lebaran kali ini, Pemda DKI mengubah haluan kebijakannya dengan tidak melakukan operasi yustisi kependudukan (OYK).

Berubahnya haluan kebijakan Pemda DKI itu barangkali disebabkan OYK dinilai tidak cukup efektif dalam membatasi penduduk datang ke Jakarta. Sebab, nyatanya penduduk bisa datang ke daerah metropolitan ini meski bukan pada saat momentum Lebaran.

Sejatinya memang perpindahan penduduk ke Jakarta ataupun ke daerah perkotaan lainnya tidak perlu dibatasi.

Sebab, jika dikelola dengan baik, para pendatang itu akan

memberikan kontribusi positif bagi kemajuan ekonomi daerah yang dituju. Bukti empiris menunjukkan bahwa fenomena urbanisasi bertalian erat dengan modernisasi, industrialisasi, dan rasionalitas proses sosial.
Atas dasar itu, tak heran jika penduduk kota terus menunjukkan pertambahan dari waktu ke waktu. Hal itu berlaku secara universal. Di Indonesia, misalnya, dalam satu dekade penduduk perkotaan bertambah dari 42% pada 2000 menjadi 49,8% pada 2010. Diperkirakan, pada 2030 penduduk perkotaan di Tanah Air akan menjadi sebesar 66,6% (Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035).

Kian pesatnya pertambahan penduduk perkotaan di Tanah Air diperkirakan berpotensi besar bagi kemajuan perekonomian nasional. Laporan The McKinsey Global Institute (2012), misalnya, mengungkapkan bahwa sekitar 53% penduduk perkotaan di Tanah Air saat ini memberikan kontribusi sebesar 74% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Diperkirakan, pada 2030 kontribusinya meningkat menjadi 86% terhadap PDB dari 71% penduduk perkotaan.

Secara faktual, pesatnya pertambahan penduduk perkotaan di Tanah Air sejalan dengan fenomena global. Adapun penduduk perkotaan se cara global pada 1975 baru mencapai sekitar 37,7%, lalu menjadi 52,6% pada 2012.

Diperkirakan pada 2050, penduduk perkotaan mencapai sekitar 67,2% dari total penduduk global (United Nations, 2012).

Sesuai dengan kemajuan ekonominya, pertambahan penduduk perkotaan di negara-negara maju lebih pesat dibandingkan pertambahan penduduk perkotaan di negara-negara berkembang. Diperkirakan, pada 2050 penduduk perkotaan di negara-negara maju telah mencapai 85,9%, sementara di negara-negara berkembang sekitar 64,1% (United Nations, 2012).

Pembangunan sosial dan lingkungan

Namun, celakanya, kemajuan ekonomi perkotaan kerap tidak sejalan dengan pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan. Untuk Jakarta, misalnya, meski daerah ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup besar sekitar 6%-7% per tahun. Namun, kemajuan ekonomi itu tak sejalan dengan kemajuan dalam pembangunan sosial dan pelestarian lingkungannya.

Secara sosial, Pemda DKI belum berhasil memenuhi kebutuhan penduduknya, seperti tempat tinggal, air bersih, pendidikan dan kesehatan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan dasar itu kerap berujung konflik sosial, baik secara horizontal antarsesama warga maupun secara vertikal antarwarga dan Pemda DKI.

Sementara tak sejalannya kemajuan ekonomi Jakarta dengan pemeliharaan kondisi lingkungan, antara lain, terdeteksi dari fenomena terjadinya banjir, polusi, dan sampah di Ibu Kota. Ditengarai, akibat kurang memadainya pembangunan sosial dan pelestarian lingkung an di ibu kota, banyak penduduk yang pindah ke luar Jakarta, terutama ke Bodetabek, meski tempat bekerjanya tetap di Jakarta. Hal ini juga diperkirakan berlaku bagi mayoritas pendatang yang menjadikan Ibu Kota sebagai tempat mencari pekerjaan, sementara tempat tinggalnya berada di luar Jakarta.

Berkaitan dengan fenomena itu, kini pertumbuhan penduduk Jakarta lebih rendah dari pertumbuhan penduduk secara nasional. Diperkirakan selama 2010-2015, pertumbuhan penduduk Jakarta hanya sebesar 1,09% sementara pertumbuhan penduduk nasional sebesar 1,38 % (Bappenas, BPS dan UNFPA, 2014). Meski demikian, padatnya penduduk Jakarta sangat terasa pada siang hari ketika penduduk sekitar Jakarta bekerja di ibu kota.

Patut dicatat, Jakarta dan daerah sekitar Jakarta samasama memperoleh keuntungan dari kian maraknya fenomena urbanisasi ke Jakarta dan daerah sekitarnya. Daerah ibu kota memperoleh keuntungan berupa kontribusi peningkatan produktivitas, sedangkan daerah sekitar Jakarta diuntungkan dari peningkatan kon sumsi, yang masing-masing baik produktivitas maupun konsumsi berkontribusi positif terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Namun, hal itu tidak berarti bahwa Pemda DKI boleh abai dalam pembangunan sosial dan pemeliharaan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan warganya. Bahkan, Pemda DKI sepatutnya terus mengupayakan pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan sejalan dengan kemajuan ekonominya.

Pentingnya mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pembangunan sosial dan lingkungan di daerah perkotaan sebenarnya telah lama disarankan badan PBB.
Secara faktual, hal itu dapat diketahui dari Agenda 21 (UN, 1993) dan ditegaskan kembali pada pertemuan Post MDGs di Rio pada 2012.

Atas dasar itu, sangat diharapkan pemerintah kota, khususnya DKI dapat meluruskan arah pembangunannya yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga secara bersamaan meningkatkan pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan.

Sementara terkait keberadaan pendatang yang kini banyak bermukim di luar Jakarta, salah satu wujud pembangunan yang sangat diharapkan adalah kemudahan transportasi yang menghubungkan Jakarta dan daerah sekitarnya.

Terwujudnya transportasi yang nyaman itu sekaligus sebagai penghargaan terhadap pendatang yang telah memberikan kontribusi bagi kemajuan ekonomi Jakarta.

Sumber:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s