Bonus Demografi dan Generasi Melek Bahasa

AKHIR – AKHIR ini kita sering membaca dan mendengar kata “bonus demografi”. Wacana tentang bonus demografi hangat didiskusikan di forum ilmiah, seminar, lokakarya, dan sebagainya. Definisi tentang bonus demografi merupakan keuntungan secara ekonomis yang disebabkan penurunan proporsi penduduk muda yang mengurangi besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya sehingga kegunaan sumber daya dialihkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

Bagi Indonesia ada rentang waktu 7-17 tahun lagi untuk mempersiapkan modal manusia agar bisa memanfaatkan peluang emas periode 2020-2030. Caranya, menanamkan investasi modal manusia. Indonesia akan memasuki fase emas yang disebut bonus demografi selama 10 tahun yang diprediksi akan terjadi pada periode 2020-2030 dengan angka dependency ratio 0,4-0,5. Artinya, 100 orang usia produktif hanya menanggung 40-50 orang usia tidak produktif.

Menurut guru besar demografi Universitas Indonesia Prof Dr Sri Moertiningsih Adioetomo, Indonesia sudah mendapat bonus demografi mulai 2010 dan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2020 hingga tahun 2030. Ada tiga fase yang terjadi dengan hadirnya bonus demogrfi di Indonesia. Fase pertama, angka kelahiran dan kematian melaju dengan sangat tinggi. Fase kedua, meningkatnya kebutuhan hidup rakyat Indonesia sehingga angka kematian menjadi menurun dan angka kelahiran menjadi bertambah. Fase ketiga, angka kematian rendah disebabkan oleh gaya hidup (life style) sehingga membuat angka kelahiran menjadi turun. Inilah fase yang disebut sebagai window of opportunity (jendela kesempatan) saat jumlah penduduk produktif yang banyak itu dapat diakumulasikan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka kemiskinan .

Generasi Melek Bahasa

Sebagaimana kita ketahui bersama, sistem pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Prof Dr Emil Salim dalam artikelnya yang berjudul Peta Menuju Negara Maju (2014) mengatakan bahwa untuk mencapai sasaran peningkatan kesejahteraan sebagai dampak bonus demografi perlu dikembangkan knowledge based society. Ilmu yang perlu dikembangkan adalah sains, teknologi, engineering, dan matematika yang dibalut ilmu humaniora, sosial, dan budaya sebagai penggerak daya pembangunan bangsa 2014-2030.

Dalam konteks pembentukan generasi emas yang akan menguasai beberapa cabang keilmuan tersebut, salah satu pendidikan dasar yang sangat penting adalah bahasa. Bahasa menjadi salah satu fondasi untuk membangun generasi yang kompetitif. Bahasa yang harus mereka kuasai adalah bahasa ibu (baca: Indonesia) dan bahasa internasional (baca: Inggris). Keduanya menjadi syarat mutlak. Bahasa ibu berkaitan dengan dimensi affektif, membentuk karakter bangsa.

Sebenarnya, mata pelajaran bahasa Inggris telah diajarkan di sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi (PT). Sebagian taman kanak-kanak (TK) pun mengajarkannya. Di sekolah menengah, bahasa ini bahkan diujikan sebagai syarat kelulusan. Yang menjadi pertanyaan, apakah para siswa telah mampu berbahasa Inggris secara aktif?
Bahasa Inggris yang diposisikan sebagai bahasa asing menjadi salah satu faktor penyebabnya. Di samping kurikulum sendiri juga tak mampu mendukung ke arah siswa mampu berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Di Indonesia, bahasa Inggris dipelajari di sekolah, namun tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dipelajari sebatas teori dan ilmu.

Seorang anak yang tahu banyak ekspresi bahasa Inggris belum tentu bisa menggunakan dengan tepat. Di negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura, bahasa Inggris dipergunakan di dalam keseharian di samping bahasa resmi (official language). Karena itu, perlu diwacanakan penggunaan bahasa Inggris dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu, bahasa Inggris menjadi bagian dari alat komunikasi dalam berinteraksi. Misalnya, pada hari-hari tertentu dalam seminggu diwajibkan untuk berbahasa Inggris.

Kalau kita amati, mayoritas anak-anak yang menguasai bahasa Inggris adalah mereka yang tinggal di perkotaan dan orang tuanya memiliki kemampuan secara finansial. Mereka bisa mengasah kemampuan dari sekolah yang memiliki fasilitas, melalui lembaga kursus, atau mengikuti les privat. Lalu, bagaimana para siswa yang tinggal di daerah dan tidak mampu? Inilah yang mendorong pemikiran kita bersama untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih baik agar mereka bisa menguasai bahasa Inggris dari bangku sekolah.

Entitas pendidikan mesti menyadari bahwa kurikulum pendidikan yang dilaksanakan selama ini telah cukup memberikan pelajaran yang berarti tentang berbagai kesalahan sekaligus kebaikannya. Demi menciptakan generasi yang tangguh, belum terlambat berbenah. Semoga bonus demografi benar-benar menjadi rahmat bagi bangsa Indonesia.

Yune Anggraini;   Pengajar di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Muhammadiyah Basin, Klaten, Jateng

Sumber:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s