Menyongsong Siklus Tujuh Abad Nusantara

Mengikuti siklus peradaban, maka Nusantara, Indonesia, pernah menjadi pusat peradaban dunia melalui siklus tujuh abad. Dimulai dari Kerajaan Sriwijaya sekitar 700 Masehi, Majapahit sekitar 1400 M, dan siklus berikutnya diharapkan akan terjadi sekitar tahun 2100 M.

Namun, untuk menyongsong siklus tujuh abad Nusantara itu perlu peninjauan evolusi otak manusia dengan menitikberatkan pada bagaimana perkembangan peradaban manusia dan rotasi kehidupannya.

Bonus demografi juga menjadi penentu arah perubahan perkembangan peradaban Indonesia yang hendak kita capai dengan memastikan hadirnya peradaban yang bersumber dari nilai kebenaran (veritas), kejujuran (probitas), dan keadilan (iustitia).

Evolusi Otak

Kemampuan manusia beradaptasi menjadi penting karena berkaitan dengan proses evolusi biologis manusia, juga evolusi yang terjadi pada otak manusia. Proses berpikir manusia selalu beradaptasi terhadap berbagai situasi, seperti keadaan emosi, pemikiran, ataupun gagasan yang akan ditanggapi secara berbeda tergantung situasi sekitarnya.
Kemampuan manusia beradaptasi tidak dapat dipisahkan dari teori filogeni dan ontogeni otak. Filogeni otak ialah proses adaptasi otak terhadap lingkungan sejak jutaan tahun yang lampau sampai saat ini. Ontogeni otak ialah proses pertumbuhan atau proses maturasi fisik otak sejak dalam kandungan sampai dewasa. Pada ontogeni otak terjadi pengulangan dari evolusi filogeni otak.

Perubahan volume dan kapasitas otak manusia adalah proses biologis. Hal ini dapat diamati dari fosil tengkorak manusia purba, terjadi perubahan ukuran tengkorak yang makin membesar. Kapasitas tengkorak yang lebih besar berarti volume otak bertambah.
Fosil manusia yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Pithecanthropus, di antaranya Pithecanthropus mojokertensis dengan kapasitas otak 1.013-1.251 cm3. Bandingkan dengan Homo sapiens (dalam bahasa Latin berarti manusia bijak) antara 1.000-2.000 cm3.

Perkembangan penting dalam pembesaran otak manusia terjadi akibat bertambahnya volume otak pada lobus frontalis dan lobus parietal. Ini berhubungan dengan berkembangnya keinginan, gagasan serta pengendaliannya, kepribadian, daya simak, pemikiran, asosiasi dan integrasi berbagai pengalaman. Semuanya menuju pada perkembangan biososial manusia dengan tiga hal penting, yaitu pembuatan alat, organisasi sosial, dan komunikasi dengan bahasa.

Ketiganya merupakan ciri biokultural dan fenomena suatu populasi. Secara biologis morfologis, manusia adalah primata yang berdiri tegak dan mempunyai otak yang besar, mengakibatkan ia berbudaya, termasuk berbahasa.

Proses berpikir ikut berevolusi akibat evolusi biologis dan beradaptasi secara kultural. Bahasa dan budaya merupakan tahap tertinggi dalam proses evolusi manusia dan merupakan bukti adanya proses berpikir oleh otak manusia yang mampu memahami simbol, abstrak, dan menghasilkan berbagai gagasan ataupun penemuan canggih.

Menuju Manusia Bijak

Evolusi pada manusia ini adalah suatu keniscayaan agar manusia modern memiliki kapasitas mengembangkan peradabannya menjadi manusia bijak (Homo sapiens) yang arif dan bijaksana mengelola lingkungan dan tidak merusak lingkungannya.
Bangsa yang maju peradabannya dapat dilihat dari geografi, sejarah, dan demografinya. Jumlah penduduk yang besar belum berarti bahwa bangsa atau negara yang bersangkutan itu juga besar, tetapi adalah suatu kenyataan bahwa jumlah penduduk yang besar memberi kemungkinan- kemungkinan yang tidak sedikit bagi suatu bangsa untuk memperoleh tempat yang berarti di dunia.

Pernyataan itu dikemukakan Nathan Keyfitz, ekonom berkebangsaan Kanada dari Universitas Harvard, dan Widjojo Nitisastro, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang memublikasikan hasil riset mereka tahun 1955 dalam buku Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia.

Jika jumlah penduduk dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi, ditemukan istilah bonus demografi. Sri Moertiningsih Adioetomo dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyatakan, bonus demografi adalah keadaan di mana jumlah penduduk produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan jumlah penduduk muda (di bawah 15 tahun) dan lanjut usia (65 tahun ke atas).

Bonus Demografi

Indonesia mulai menikmati bonus demografi tahun 2010 dan berakhir tahun 2050. Puncak bonus demografi terjadi tahun 2020-2030. Bonus demografi ini memberi peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang diharapkan dapat memberi peningkatan kesejahteraan tertinggi sehingga menurunkan angka kemiskinan.
Apabila Indonesia tidak memanfaatkan peluang ini, hanya mengandalkan praktik ekonomi yang biasa atau business as usual, akan muncul peluang bencana (door to disaster) dan kerusuhan sosial (social unrest).

Saat ini sudah waktunya kita melakukan pembaruan dengan memanfaatkan peluang meningkatkan kapasitas dan kualitas manusia Indonesia melalui evolusi otak yang terus berlangsung, menyongsong siklus tujuh abad Nusantara dan adanya window of opportunity dari bonus demografi dengan membangun peradaban yang bersumber pada nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

Widjajalaksmi Kusumaningsih ;  Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Sumber:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s