Rasionalitas Ber-KB

Indikasi akan terjadi ledakan penduduk di Tanah Air menguat. Bukti
empiris menunjukkan, angka fertilitas total atau total fertility
rate/TFR lebih tinggi daripada angka ideal untuk mencapai penduduk stabil.

Terindikasi, penduduk terus bertambah sekitar 1,3 persen/tahun. Jika
angka itu bertahan, jumlah penduduk akan berlipat dua (doubling
population) dalam tempo 53 tahun dari saat ini. Tak mengherankan bila
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri
Syarif menilai Indonesia berpotensi mengalami baby boom tahap kedua
(Kompas, 22/7/2008).

Rasionalitas

Perubahan tingkat kelahiran itu, antara lain, karena kendurnya program
KB. Perubahan sistem pemerintahan diikuti otonomi daerah dinilai ikut
mengendurkan program KB di Tanah Air.

Untuk menurunkan tingkat kelahiran, pentingkah program KB? Turunnya
kelahiran di Eropa Barat menunjukkan, program KB bukan faktor penting,
tetapi modernisasi dengan ciri rasionalitas dalam cara berpikir (David
Yaukey, Demography: The Study of Human Population, 1985).

Cara berpikir rasional yang termanifestasi dalam perubahan perilaku
pengambilan keputusan guna mencapai tujuan (termasuk ber-KB) umumnya
berdasarkan pertimbangan ekonomi dan efisiensi. Padahal, di masyarakat
tradisional, suatu keputusan tidak berubah dari generasi ke generasi.

Adapun faktor pendorong lahirnya cara berpikir rasional masyarakat
Eropa Barat adalah perkembangan sosial ekonomi yang ditandai
pergeseran masyarakat dari pedesaan ke perkotaan, dari pertanian ke
industri dalam lapangan kerja dan aktivitas ekonomi (Yaukey, 1985).

Salah satu wujud nyata cara berpikir rasional adalah dalam menilai
anak (child value). Pada masyarakat modern, nilai anak tidak dikaitkan
faktor produksi tetapi penerus keturunan. Maka, kualitas anak perlu
dijaga dan itu memerlukan biaya sosial, ekonomi, dan psikologi.
Akibatnya, keputusan memiliki jumlah anak disesuaikan kemampuan dalam
membesarkan anak, yang umumnya menginginkan sedikit anak. Keputusan
memiliki sedikit anak ini menjadi pendorong transisi fertilitas di
Eropa Barat. Faktor terpenting lain adalah keputusan penundaan usia
kawin dan tidak kawin (Coale, 1973).

Sedangkan pada masyarakat tradisional, anak dinilai sebagai investasi
faktor produksi untuk membantu penghasilan keluarga. Akibatnya,
keputusan untuk memiliki banyak anak tidak berubah dari generasi ke
generasi.

Informasi KB

Celakanya, cara berpikir rasional masyarakat Eropa Barat tidak sama
dengan masyarakat di Tanah Air. Kenyataan ini terdeteksi dari perilaku
yang belum berubah, seperti banyak penduduk menikah pada usia muda,
dan cenderung beranak banyak. Maka, kemandirian ber-KB pada masyarakat
Eropa Barat tidak bisa diharapkan kepada masyarakat kita sehingga
peran pemerintah (program KB) amat diperlukan.

Namun, peran pemerintah tidak dapat dilakukan sembarangan karena
program KB terkait hak asasi manusia (HAM). Keputusan seseorang untuk
ber-KB dari keinginan sendiri tidak bisa dipaksakan (Watson, 1982).

Watson mengingatkan, ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam
menjalankan program KB, yaitu informasi, ketersediaan alat/cara, dan
layanan KB. Ketiga aspek itu harus berjalan paralel dan seimbang.
Berdasarkan ketentuan ini, belum terlihat apakah mengendurnya program
KB nasional karena aspek informasi, ketersediaan alat/cara, dan
layanan KB atau kombinasi ketiganya.

Lebih komunikatif

Ditengarai, aspek ketersediaan alat/cara dan layanan KB kerap dituding
sebagai penyebab mengendurnya program KB. Padahal, aspek informasi
yang sering terabaikan memberi andil besar dalam program KB. Bahkan,
aspek informasi KB diperkirakan memiliki kekuatan melebihi aspek
ketersediaan alat/cara dan layanan KB. Salah satu faktor penting yang
mendasari kekuatan informasi adalah pada unsur pengetahuan dan
pembelajaran.

Informasi KB bernuansa pengetahuan dan pembelajaran amat diperlukan
mengingat tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah serta
pengaruh kultur, khususnya pada masyarakat pedesaan. Maka, informasi
KB dapat diarahkan membentuk pemikiran rasional, terutama dalam
keputusan penundaan usia kawin dan pembatasan kelahiran.

Rasionalitas ber-KB di masyarakat perlu terus diupayakan guna
menurunkan fertilitas di Tanah Air. Caranya, mendesain informasi KB
lebih komunikatif, edukatif, dan persuasif.

Untuk menghasilkan desain informasi KB yang efektif mungkin perlu
dilakukan pemerintah pusat, sementara untuk aspek alat/cara KB dan
layanannya dilakukan pemerintah daerah. Cara demikian sekaligus dapat
menjembatani gap antara kebijakan KB pada level makro (nasional) ke
keputusan ber-KB pada level mikro (rumah tangga). Eloknya,
rasionalitas ber-KB sejalan dengan HAM.

Razali Ritonga, Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Sumber:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s